Sisi Lain Kinerja Ekspor – Impor Bali

Ekspor Impor Bali
Ekspor Impor Bali

Menjadikan salah satu indikator perekonomian sebagai suatu tolak ukur keberhasilan dari sebuah pengelolaan pemerintah merupakan sebuah isu yang sangat hangat dibicarakan. Beberapa kali media selalu menggaungkan tentang defisit neraca perdagangan Indonesia yang sekiranya diinterpretasikan sebagai kegagalan dari upaya pemerintah bersaing di kancah perdagangan internasional. Tak pelak jika suatu ketika impor melebihi ekspor, itu dimaknai sebagai kegagalan pemerintah dalam menggenjot ekspor.

 

             Ditengah fakta empirik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tanggal 15 Januari 2018 yang menyebutkan bahwa Indonesia hingga Desember 2018 mengalami CAD (Current Account Deficit) sebesar US$ 8,57 miliar, jika dipandang dari sisi ekspor yang jika dibandingkan dengan tahun 2017, Indonesia telah mengalami cukup peningkatan ekspor sebesar 6,65 persen. Permasalahan yang mendasar adalah mengapa ditengah-tengah meredupnya peningkatan ekspor kumulatif negara ini, kembali kita dihadang dengan kondisi impor kumulatif yang juga alami peningkatan yang signifikan. Tentu pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengemukakan kekhawatirannya tentang CAD ada benarnya, pasalnya yang kita ekspor adalah produk barang mentah. Bila barang mentah itu dipoles semanis mungkin, tidak menutup kemungkinan harganya akan melambung tinggi bahkan secara akumulasi bisa saja akan melampaui impor.

             Bagaimana posisi Bali dalam memberikan kontribusi dalam neraca perdagangan Indonesia? Saat ini kontribusi terbesar barang ekspor Indonesia di-support oleh tiga provinsi besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, dengan kontribusi kumulatif sebesar 37,77 persen. Posisi Bali saat ini pada peringkat ke 26 dengan kontribusi pada ekspor Indonesia sebesar 0,33 persen. Sangatlah wajar jika Bali mengalami ketertinggalan dari sisi perdagangan Internasional. Bali tidak memiliki kompetensi dalam ekspor migas. Jangan risaukan tentang ini. Mari kita lihat seberapa besar pencapaian Bali di tahun 2018.

             Di tengah-tengah topik hangat yang merajai beberapa lini media massa terkait CAD maupun masalah penguatan perjanjian dagang dengan negara sahabat, Bali tetap bertahan akan surplusnya neraca perdagangannya. Selama kurun waktu sembilan tahun ini, dari tahun 2010 hingga saat ini, neraca perdagangan Provinsi Bali selalu mengalami surplus transaksi berjalan. Titik surplus transaksi berjalan  mengalami titik terendah di tahun 2010. Mari kita bergerak pada prestasi yang dialami Bali. Memang bukanlah merupakan titik ekspor tertinggi selama kurun waktu sembilan tahun, namun di tahun 2018 ekspor Bali mengalami peningkatan sebesar 10,95 persen. Surplus neraca perdagangan pun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Bukan perkara mudah mencari pembenaran, karena hal ini merupakan konsekuensi ekonomi Bali yang juga tumbuh dalam situasi global yang melambat. Namun lihatlah dari sisi kekukuhan Bali yang mampu bertahan di situasi seperti demikian.

             Bila ditelusuri lebih dalam, ternyata selama tahun 2018 Bali pun sempat mengalami CAD. Tepatnya di bulan November 2018. Namun tidaklah signifikan seperti kenaikan impor migas Indonesia itu. Bali melakukan Impor besar di bulan November 2018 dalam bentuk barang modal komoditas HS 2 Digit yaitu kapal laut dan bangunan terapung (89). Defisit neraca perdagangan yang diakibatkan meningkatnya impor barang modal sebetulnya merupakan tanda positif bagi suatu daerah, karena tentu berdampak pada industri manufaktur yang akan terus bertumbuh dan berkembang.

Apa yang mencengangkan di tahun 2018?           

             Struktur barang ekspor utama Bali di tahun 2018 masih dikuasi oleh komoditas ikan dan udang. Namun, keterbandingan tahun 2018 dan tahun 2017 menunjukkan beberapa pergeseran komoditas, yang dulunya Bali melakukan ekspor komoditas (HS 2Digit) kopi, teh, rempah-rempah serta komoditas daging dan ikan olahan, kini digantikan oleh ekspor komoditas kertas/karton dan jerami/bahan anyaman. Ekspor kertas/karton meningkat hingga 115,18 persen, dan ekspor komoditas jerami/bahan anyaman meningkat 35,43 persen. Hal ini tentunya bisa menjadi pesan singkat bahwa kini ada secercah harapan pada kedua komoditas ini selain ke delapan komoditas yang tetap memberikan sumbangsih besar dalam ekspor Bali. Dari 12,16 juta US$ ekspor komoditas kertas/karton, 87,6 persennya (10,65 Juta US$) berupa kertas sigaret/kertas linting, yang sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat (8,24 juta US$). Tak kalah saingnya untuk komoditas jerami/bahan anyaman, dari 12,1 juta US$ yang diekspor, sebesar 73,37 persen (8,9 juta US$) berupa keranjang dan bahan anyaman lainnya. (sumber data : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali)

             Pangsa pasar ekspor Bali yang mencengangkan di tahun 2018 antara lain masuknya negara Thailand dan Taiwan dalam 10 pangsa utama ekspor Bali menggeser keberadaan negara Belanda dan Spanyol di tahun 2017. Sebanyak 45,82 persen (6,98 juta US$) merupakan ekspor dalam bentuk perhiasan/permata ke Thailand. Sementara ekspor ke Taiwan didominasi oleh 88,19 persen (12,43 juta US$) produk ikan dan udang.

             Dari sekian banyak hal yang membanggakan dari ekspor Bali, ada beberapa hal yang patut diwaspadai. Selama ini pemberangkatan barang ekspor Bali tidak hanya melalui satu pelabuhan baik laut maupun udara yang ada di Bali. Namun selama bertahun-tahun ekspor bali diberangkatkan utamanya dari luar pelabuhan Bali terutama Jawa Timur bahkan hingga Desember 2018 sebanyak 54,346 persen barang ekspor Bali diberangkatkan dari pemberangkatan Surabaya. Hanya 42,532 persen barang ekspor Provinsi Bali diberangkatkan dari Pulau Bali ini. Justru di luar dugaan pada Oktober 2018 barang ekspor Bali ada yang diberangkatkan dari pelabuhan di Sumatera Utara. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah pelabuhan atau wilayah pemberangkatan di Bali belum mumpuni untuk meberangkatkan produk itu langsung dari Bali. Hal ini tentu mampu memberi isyarat bahwa perlu ada perbaikan terkait sarana pemberangkatan barang-barang terkait perdagangan luar negeri seperti memanfaatkan bagasi pesawat komersial yang hingga saat ini belum dilakukan.

Bagaimana dengan Impor Bali?

             Penelusuran kali ini berkutat dengan apa yang menjadi shock selama tahun 2018. Ditengah fakta bahwa defisitnya neraca perdagangan Indonesia saat ini yang dikarenakan ekspor migas, Bali sepertinya rata-rata anteng-anteng saja. Beberapa impor besar dilakukan oleh Bali terutama di bulan Maret 2018 dan November 2018. Komoditas penyebab lonjakan di bulan Maret adalah dengan impor mesin dan perlengkapan mekanik serta impor komoditas minyak atsiri, kosmetik dan wangi-wangian yang peningkatannya mencapai ratusan persen. Sementara itu, lonjakan di bulan November 2018 disebabkan karena impor barang modal berupa komoditas kapal laut dan bangunan terapung yang berasal dari Tiongkok mencapai 63,013 juta US$. Tentu dengan nilai yang sangat tinggi ini yang menyebabkan lonjakan impor Bali hingga pada saat itulah menjadi penyebab tumben nya neraca perdagangan Bali mengalami defisit 16,36 juta US$ pada saat itu. Namun tidak perlu dirisaukan lagi, karena ini sifatnya barang modal yang sudah barang tentu akan mendukung terlaksananya proses produksi suatu wilayah. Namun yang patut diwaspadai adalah mungkinkah ini merupakan impor sementara?

             Komposisi top ten dari negara asal impor Bali pun mengalami sedikit pergeseran. Korea Selatan yang pada tahun 2017 dengan total impor 2,32 juta US$ digeser oleh negara asal impor yaitu Kanada dengan total impor 7,16 juta US$. Komoditas utama yang diimpor Bali dari Kanada didominasi oleh komoditas Mainan berupa flying theatre. Komposisi impor Bali jika dilihat dari komoditasnya pun turut mengalami pergeseran. Jika pada tahun 2017 komoditas dengan nilai impor tertinggi berupa produk mesin dan perlengkapan mekanik sebesar 15,13 juta US$, namun di tahun 2018, komoditas utama yang sebenarnya menduduki peringkat atas adalah produk minyak atsiri, kosmetik dan wangi-wangian yang tercatat sebesar 25,53 juta US$. Abaikanlah produk kapal laut dan bangunan terapung yang merupakan outlier itu. Jika diamati impor Bali yang dulunya berupa barang modal yang digunakan untuk memperkuat industri kini beralih ke barang konsumsi seperti parfum, barang kosmetik, dan preparat kecantikan. Hal yang patut diwaspadai karena impor barang konsumsi adalah hal yang sangat dirisaukan. Seperti yang kita ketahui bahwa produk-produk lokal tentu saja tidak kalah bagusnya daripada produk impor. Apakah ini sebagai akibat dari adanya pembebasan bea masuk untuk komoditas kecantikan. Bali sebaiknya melakukan penggenjotan giat industri barang kecantikan sebagai salah satu produk unggulan Bali. Hal ini diyakini karena dengan mengenjot industri, maka ekspor Bali akan menjulang, dan mampu menaikkan peringkat share Bali terhadap ekspor nasional, dan menanggalkan predikat peringkat ke dua puluh enam share barang ekspor nasional.

 

Oleh : Dwi Yustiani, S.S.T

Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

 

Leave a Reply