Sinergitas Pentahelix Menuju Pariwisata 4.0

Unsur pentahelix menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas memiliki  tanggung jawab penuh dalam bersinergi menentukan arah kebijakan di sektor pariwisata yang lebih baik. Terlebih lagi memasuki era industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan berbagai teknologi, artificial intelegence, big data, dan perkembangan neuroteknologi tentu sektor pariwisata harus beradaptasi akan hal tersebut, sehingga pariwisata 4.0 bisa terwujud, sesuai dengan salah satu prioritas utama dalam pengembangan pariwisata yakni Go Digital.

Klaus Schwab dalam bukunya yang berjudul The Fourt Industrial Revolution menyatakan bahwa revolusi industri yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan adanya cyber phisycal system. Kemuculan supercomputer, smart robot, kendaraan tanpa pengemudi, serta perkembangan neuroteknologi menjadi ciri khas dari revolusi 4.0 ini. Revolusi industri 4.0 datang melalui beberapa tahapan, pertama sinyal, kedua perubahan lingkungan bisnis, transformasi berbagai bidang, dan keempat adalah adaptasi akan perubahan.

Saat ini industri 4.0 telah memasuki berbagai sektor. Pariwisata 4.0 contohnya. Pariwisata 4.0 mengedepankan pada aspek big data terkait perilaku wisatawan dan kemudian data tersebut diproses sehingga diperoleh data pengalaman perjalanan wisatawan itu sendiri. Hal ini didasarkan pada pengembangan teknologi untuk mencapai itu. Pariwisata 4.0 memanfaatkan kecerdasan buatan, internet, dan analisis dari big data yang akan memungkinkan mengemas perjalanan wisata menjadi lebih efisien, lebih aman, lebih cepat, dan meminimalisasi biaya. Kemunculan beberapa industri startup  yang bergerak di dunia pariwisata seperti situs booking online merupakan salah satu contoh dari pelaku pariwisata 4.0 yang tentu akan berimbas pada sisi kecepatan maupun penekanan pada aspek biaya.

Bagi ritme pariwisata di Indonesia hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Pariwisata yang bebasis kearifan lokal yang masih dikendalikan oleh adat budaya serta religi menjadi cukup riskan. Seperti contoh dengan booming nya startup baru di bidang transportasi mampu menimbulkan pro dan kontra antara sistem transportasi konvensional dan sistem transportasi digital dalam genggaman. Namun jika dipikir lebih matang, penemuan baru dibidang itu tentu sangat mempermudah masyarakat, terlebih mempermudah akses wisatawan dari satu tempat ke tempat lain.

Unsur pentahelix merupakan salah satu kolaborasi apik yang dicetuskan oleh Kementrian Pariwisata guna pengembangan pariwisata. Berdasarkan Peraturan Pentri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Sinergitas antara unsur pentahelix meliputi pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas tertuang dalam peraturan tersebut. Pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan yang efektif mencakup kriteria perencanaan, pengelolaan, pemantauan, dan evaluasi. Dan kelima unsur pentahelix masuk dalam kriteria tersebut.

Unsur pentahelix yang pertama adalah pemerintah. Pemerintah memanglah tidak terlibat langsung dalam dukungan pariwisata. Sebagai unsur pembuat regulasi, tentu peran pemerintah dalam mendukung pariwisata adalah krusial. Disini pemerintah mengambil porsi besar dalam perencanaan berbagai aspek terkait pariwisata. Sektor pariwisata yang menjadi leading sektor ekonomi di Indonesia tentu memiliki dampak positif dan dampak negatif. Peraturan terkait infrastruktur maupun promosi pariwisata sangat dibutuhkan. Blue print terkait pariwisata tentu menjadi hal utama, karena strategi selanjutnya dapat diputuskan melalui adanya blue print ini. Pengambilan kebijakan agar tepat sasaran senantiasa harus didasarkan atas data. Dan di era pariwisata 4.0 ini, peran big data adalah yang utama.

Unsur yang kedua adalah akademisi. Kebijakan pemerintah yang berdasarkan fakta dan data tentu harus bersinergi dengan para akademisi. Peran akademisi disini adalah memberikan pandangan dan analisis atas data yang ada. Hal ini dapat dijadikan acuan oleh pemerintah dalam merumuskan kebijakan pariwisata berkelanjutan. Dari sisi SDM, peran akademisi sangat diperlukan untuk mencetak SDM pariwisata yang berkualitas. SDM yang memiliki daya saing tinggi dan melek akan teknologi lah yang akan survive dalam industri ini.

Unsur ketiga adalah pelaku bisnis. Pelaku bisnis memegang kunci pokok dalam industri pariwisata. Konsep 3A sebagai dasar pengembangan pariwisata suatu daerah meliputi atraksi, aksesibilitas, dan amenitas dipegang oleh para pelaku bisnis. Dari sisi konsep atraksi yang merupakan produk utama dari sebuah wilayah destinasi dikelola oleh pelaku bisnis. Pertunjukan tari-tarian, atraksi budaya, serta pertunjukan-pertunjukan budaya lain pasti dikelola oleh pelaku bisnis. Seperti contoh atraksi Kecak di Bali yang rutin dilaksanakan, beberapa wisata museum painting komersil, serta theater budaya lainnya dilakukan oleh beberapa kegiatan usaha. Konsep aksesibilitas mengambil porsi besar di bidang transportasi untuk menuju ke sebuah destinasi wisata. Aplikasi pemesanan transportasi digital yang sangat memberi kemudahan dalam akses tentu menjadi bagian dari pariwisata 4.0 ini. Tidak hanya tenaga yang dihemat, waktu dan biaya pun dapat dihemat. Konsep yang ketiga adalah amenitas. Amenitas terkait dengan tersedianya akomodasi serta jasa penyediaan makan minum. Selain itu, UKM sebagai produsen souvenir bagi wisatawan juga dikelola oleh pelaku bisnis. Sarana promosi dengan menggunakan media digital merupakan pilihan cerdas bagi para pelaku bisnis karena sifatnya yang realtime.

Dan yang keempat adalah komunitas. Banyak generasi milenial aktif dalam berbagai komunitas. Salah satunya adalah GenPI atau lebih dikenal dengan Generasi Pesona Indonesia. Yang unik di Bali adalah komunitas anak muda di setiap banjar atau dikenal dengan sebutan sekaa teruna teruni. Setiap komunitas dapat mengambil porsi penting dalam pariwisata. Sebagai contoh kegiatan yang dilaksanakan oleh sekaa teruna teruni seperti membuat ogoh-ogoh mendekati hari raya Nyepi tentu sangat menarik bagi wisatawan.

Kelima adalah Media. Promosi pariwisata menjadi inti dari majunya sebuah destiniasi wisata. Bagaimana caranya kita bisa tahu di Bali kini ada desa wisata, bahkan air terjun alami baru, maupun spot instagramable kekinian jika tidak melalui sebuah promosi. Media merupakan pihak yang sangat mampu mempengaruhi mindset seseorang dalam berwisata. Begitu pula terhadap isu-isu goncangan terhadap suatu destinasi sebagai contoh adanya erupsi gunung Agung. Sudah seharusnya media turut andil dalam mempromosikan kembali wilayah yang terdampak, bukan malah menggiring stigma pembaca bahwa daerah tersebut berbahaya. Jadi kesimpulan yang paling hakiki adalah setiap unsur pentahelix memiliki porsi nya masing-masing dalam pengembangan pariwisata, bahkan dengan sinergitas kelima unsur dan diintegrasikan dengan teknologi maka akan mampu mewujudkan pariwisata 4.0.

Oleh :

Dwi Yustiani

Leave a Reply