Potensi Besar “Sport Tourism”

Sport Tourism

Sport Tourism Bali - Bali Post
Sport Tourism Bali – Bali Post

Sport Tourism kini mejadi babak baru dalam dunia pariwisata dunia. Tak terkecuali Indonesia. Sales mision telah dilakukan Kementrian Pariwisata untuk mempersuasif agar Indonesia menjadi “host” berbagai agenda sport event. Sebelumnya, ASEAN Games 2018 telah sukses digelar. Begitu pula dengan ASEAN Para Games 2018. Bali tentu mendapatkan “cipratan” dari adanya kegiatan besar itu, baik dari sisi pariwisata berikut efek dominonya. Namun, Bali juga memiliki potensi besar untuk menjadi “host”. Sebagai contoh nyata adalah terpilihnya Bali sebagai tuan rumah babak kualifikasi Piala Presiden E-Sport 2019. Mungkinkan sport tourism bisa optimal dikembangkan di Bali?

Kesan “numpang lewat” selalu menjadi isu hangat ditengah perhelatan olahraga yang diadakan di Bali. Beberapa pihak menyatakan bahwa event olahraga memang dilaksanakan di Bali namun sentralisasi penyelenggaranya tetap di wilayah pusat. Sebenarnya banyak sport event berkelas dunia telah berhasil dilaksanakan di Bali, seperti World Surf League dalam balutan Indonesia Surf Series 2018 berhasil digelar di pantai Keramas Gianyar pada tanggal 27 Mei hingga 9 Juni 2018. Begitu pula International Golf Tournament dalam event yang bertajuk Combiphar Players Championship di Pecatu Bali yang diikuti oleh 144 pemain golf dunia pada tanggal 6-9 November 2018. Serta event balap sepeda GFNY yang pertama kali diadakan di Bali pada Februari 2018. Ini merupakan pertanda bahwa Bali sesungguhnya telah dilirik dunia untuk menjadi “host” dalam berbagai even olahraga internasional.
Pada kenyataannya, dari sisi okupansi hotel, event besar olahraga belum terdampak nyata akan perhelatan besar seperti beberapa even yang diadakan di Indonesia. Contoh nyata adalah pelaksanaan Asean Games 2018 yang dilaksanakan di dua wilayah besar yaitu Jakarta dan Palembang. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat penghunian kamar hotel bintang di Jakarta pada bulan Agustus 2018 mencapai 74,12 persen. Namun kondisi ini justru belum mampu mengalahkan tingkat penghunian kamar hotel bintang di bulan sebelumnya yang mencapai 78,79 persen. Dengan asumsi bahwa pelaksanaan even besar berkelas dunia diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel tentu hal ini menjadi kontradiksi. Fakta menyatakan bahwa justru okupansi hotel di Jakarta mengalami penurunan 4,67 poin. Hal ini diduga karena kita belum mampu datangkan “supporter”, kita hanya mampu datangkan “participant”. Peningkatan okupansi hanya terjadi pada hotel-hotel yang dekat dengan venue.

Sport Tourism di Bali

Bagaimana dengan Bali pada khususnya. Even olahraga internasional seperti turnamen golf internasional yang diadakan sekitar bulan November 2018 di Pecatu Kabupaten Badung belum mampu berdampak pada peningkatan okupansi hotel. Badan Pusat Statistik kembali mencatat bahwa tingkat penghunian kamar hotel bintang Provinsi Bali pada bulan November 2018 mencapai 55,92 persen, yang mengalami penurunan 12,14 poin jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 68,06 persen. Terkhusus lagi jika dilihat berdasarkan wilayah pelaksanaan, tingkat penghunian kamar hotel bintang Kabupaten Badung mencapai 58,11 persen, dan justru mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang mencapai 70,07 persen. Sementara itu, kondisi yang cukup berbeda ditunjukkan oleh pelaksanaan dua even besar seperti ajang Balap Sepeda GNFY 2018 di bulan Februari 2018 dan Surfing World Champsionship Tour 2018 di bulan Mei 2018. Jenis even seperti ini mampu meningkatkan okupansi hotel di bulan-bulan pelaksanaan. Badan Pusat Statistik mencatat dua kondisi menggembirakan yakni pertama bahwa tingkat penghunian kamar hotel bintang Provinsi Bali di bulan Februari 2018 mencapai 66,66 persen, naik 13,69 poin dari bulan sebelumnya yang mencapai 52,97 persen. Kedua, tingkat penghunian kamar hotel bintang di bulan Mei 2018 mencapai 67,55 persen, yang juga menunjukkan peningkatan hingga 4,02 poin dari bulan Februari 2018 mencapai 63,53 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsep wisata yang dipadukan dengan olahraga justru memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian suatu wilayah. Daya tarik akan perpaduan dua kondisi ini yang saat ini menjadi trend baru dalam dunia pariwisata. Hal ini mengingat sport tourism merupakan segmen pasar yang tumbuh sangat cepat dalam sebuah industri pariwisata yang mampu meningkatkan efek ekonomi, sosial, dan lingkungan di suatu wilayah destinasinya.
Salah satu negara yang menjadi the best world sport capital adalah Barcelona, Catalonia Spanyol. Dalam sebuah report yang berjudul “The Sport Sector in Barcelona and Catalonia” dinyatakan bahwa ada beberapa hal mampu menjadikan region ini sebagai kota olahraga terbaik. Lebih dari 500 perusahaan bergerak di bidang olahraga yang mempekerjakan lebih dari 22.000 pekerja ada di wilayah ini. Tumbuhnya sektor ini dengan cepat mampu meningkatkan 2,1 persen GDP dari Catalonia. Club sepakbola Barcelona yang ada di wilayah ini merupakan salah satu club olahraga dunia yang memiliki lebih dari 160.000 anggota di seluruh dunia. Catalonia pun memiliki 35.424 area olahraga dengan lebih dari 300 jenis olahraga dapat dilakukan di area tersebut. Catalonia mengemas acara olahraga internasional sekaligus mampu menarik wisatawan hanya untuk sekedar menonton dan menikmati panorama atau bahkan ikut serta dalam even olahgara tersebut.
Bali tentu memiliki potensi besar terhadap pengembangan sport tourism. Bali dengan luas 5.636,66 km2, diperkaya dengan bentangan pegunungan yang membuat dataran Bali terbagi menjadi lahan datar seluas 122.652 Ha, lahan begelombang seluas 118.339 Ha, lahan curam seluas 190.486 Ha, dan lahan sangat curam seluas 132.189 Ha. Iklim tropis yang dipengaruhi angin musiman dan ditopang oleh wilayah pesisir dengan panjang mencapai 430 km yang sangat cocok dimanfaatkan sebagai venue olahraga air. Tak heran jika banyak even-even olahraga seperti surfing dan selancar angin dilaksanakan di Bali. Bali sangat tepat dijadikan tuan rumah berbagai even olahraga karena lokasi nya yang mudah dijangkau, aman dan nyaman.
Mengembangkan sport tourism tentu bukanlah hal mudah, namun pasti bisa dicapai dengan berbagai daya dan upaya. Stephen D. Ross dalam tulisannya bertajuk “Developing Sport Tourism” menyebutkan bahwa manfaat sport tourism terbagi menjadi tiga segmen. Pertama adalah segmen ekonomi, dari sisi okupansi hotel, penyerapan tenaga kerja, dan ekspansi penyedia jasa pariwisata akan menerima efek dari adanya sport tourism. Seperti contoh yang tertuang dalam Global Sport Impact 2017, sport event internasional seperti UEFA Euro dan the Copa América Centenario 2016 mencatat bahwa malam kamar terpakai mencapai yang tertinggi sebesar 162,700 dan 67,700, yang didominasi oleh partisipan media. Kedua, adalah segmen sosial budaya. Sport tourism dapat memperkuat warisan nasional, identitas, dan semangat masyarakat yang tergabung bersama untuk mempromosikan budaya mereka. Sport tourism juga dapat memicu regenerasi dan pelestarian tradisi budaya. Ketiga, adalah segmen lingkungan. Berbeda dengan dua segmentasi sebelumnya. Adanya Sport Even ditengarai memiliki andil dalam kerusakan lingkungan, apabila tidak dibarengi dengan perbaikan.
Tentu banyak kendala dan tantangan yang akan dihadapi Bali kedepannya. Adanya ketimpangan pembangunan sarana wisata sport seperti lapangan Golf saat ini hanya dibangun di kawasan hotel berkelas internasional. Tentu segmen pasar atau penikmat olahraga ini hanya untuk komunitas tertentu. Sehingga tantangan Bali kedepan adalah untuk membangun infrastruktur sport berkelas dunia di beberapa daerah wisata berikut venue-venue nya yang dapat dinikmati oleh kalangan kelas apapun. Regulasi juga tentunya perlu dipertegas, agar kesan “numpang lewat” tidak menggema kembali. Sumber daya manusia yang berkecimpung dalam dunia olahraga juga mesti ditingkatkan kualitasnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah promosi sport tourism dalam berbagai even baik nasional dan internasional. Karena dengan promosi, tidak hanya atlet, official team, dan media yang kita sasar, melainkan penikmat atau penonton olahraga yang merupakan turis lah yang akan memberikan efek ekonomi yang paling signifikan.

 

Penulis,
Dwi Yustiani, SST.
Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

 

 

Tulisan ini telah terbit pada harian Bali Post, 2019

Link : Bali Post

Leave a Reply