Perilaku Organisasi

Perilaku Organisasi – Kasus


Case

Dalam perjalanan suatu organisasi, terkadang timbul beberapa hambatan dalam pengeloalaan sumber daya manusia. Sebagai contoh, terdapat pegawai senior berpengalaman merasa tidak perlu untuk bekerja giat demi melebihi target yang telah ditetapkan. Pegawai tidak mengoptimalkan kemampuannya dan hanya sebatas memenuhi target ‘aman’ organisasi. Padahal, organisasi telah menjanjikan untuk memberikan reward berupa bonus dan insentif dengan besaran yang signifikan. Kurangnya motivasi dalam bekerja memaksimalkan pencapaian target, salah satunya disebabkan beberapa pegawai tersebut memiliki kesejahteraan yang cukup dari penghasilan sampingan, sehingga tidak mementingkan bonus maupun insentif yang dijanjikan. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi pihak pemangku kepentingan untuk mencari solusi terbaik.

Faktor-Faktor Motivasi

Nimran (2005 : 47) mendefinisikan motivasi adalah sebagai keadaan dimana usaha dan kemauan keras seseorang diarahkan kepada pencapaian hasil-hasil tertentu. Hasil-hasil yang dimaksud bisa berupa produktivitas dan kehadiran atau perilaku kerja kreatifnya. Sedangkan menurut Adair (2007 : 192) motivasi adalah apa yang membuat orang melakukan sesuatu, tetapi arti yang lebih penting dari kata ini adalah bahwa motivasi adalah apa yang membuat orang benar-benar berusaha dan mengeluarkan energi demi apa yang mereka lakukan. Motivasi dapat dipengaruhi dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Motivasi Internal
Motivasi internal adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh orang lain untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Faktor internal terdiri dari :

– Persepsi individu mengenai dirinya sendiri
– Harga diri dan prestasi
– Harapan
– Kebutuhan
– Kepuasan kerja

Motivasi Eksternal
Motivasi eksternal adalah motivasi yang datang dari luar diri seseorang dengan harapan dapat mencapai sesuatu tujuan yang dapat menguntungkan dirinya. Faktor eksternal terdiri dari:

– Jenis dan sifat pekerjaan
– Kelompok kerja
– Situasi lingkungan pada umumnya
– Sistem imbalan yang diterima

Dari uraian diatas, faktor internal beberapa orang mengalami kemunduran kepuasan kerja dikarenakan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup diluar penghasilan dari perusahaan. Motivasi internal yang seharusnya lebih dipupuk adalah kepuasan kerja. Sementara itu beberapa manajer memiliki motivasi yang tinggi untuk mensejahterakan para bawahannya dengan memberikan bonus dan insentif (reward). Dari sisi faktor eksternal (sistem imbalan yang diterima) sangat memberikan motivasi pada kasus ini.

Teori motivasi

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

  1. Fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;
  2. Rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;
  3. Kasih sayang (love needs);
  4. Harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan
  5. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Fokus teori ini adalah pada apa yang menjadi kebutuhan orang agar hidupnya dapat tercukupi. Menurut teori kebutuhan, seseorang mempunyai motivasi jika dia belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya. Kemudian apabila kebutuhan akan sesuatu telah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut tidak lagi akan menjadi motivator. Seorang pegawai merasa sudah tepenuhi kebutuhannya dari usaha sampingannya, sehingga di perusahaan dia tidak lagi merasa perlu bekerja lebih keras melebihi target yang dipatok oleh perusahaan.

Penutup

Dari uraian diatas, merupakan suatu tantangan yang tidak mudah agar pegawai tersebut mampu berprestasi kembali. Alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menawarkan posisi baru dengan status atau jabatan yang lebih tinggi.

Pilihan ini sejalan dengan Teori Maslow dimana ketika basic need sepeti kebutuhan fisik, rasa aman serta cinta telah mampu dipenuhi, maka tinggal status sosial serta aktualisasi diri. Peningkatan status diharapkan mampu meningkatkan kembali kinerja pegawai tersebut. Posisi baru ini tentu dibarengi dengan tanggung jawab baru yang berbeda dengan posisi sebelumnya. Dengan tetap melakukan evaluasi serta sistem reward and punishment, diharapkan posisi baru membuat kinerja pegawai tersebut semakin berprestasi. Dan bukan sebaliknya,  semakin menurun atau menjadi free rider dalam organisasi.

Referensi

Adair, J. 2007. Pemimpin yang berpusat Pada Tindakan. Binarupa Aksara: Jakarta.

Maslow, A. 2010. Motivation and Personality. Rajawali :Jakarta

Nimran, U. 2005. Perilaku Organisasi. Citra Media: Surabaya.

Vectors graphics designed by Freepik


Hubungi Kami

Leave a Reply