Pariwisata Bali Membidik Pasar India

Pariwisata Bali Bidik Pasar India
Pariwisata Bali Bidik Pasar India

Negeri Bollywood India menjadi pasar wisatawan mancanegara yang sangat potensial saat ini. Kedatangan wisman India merupakan satu-satunya dari lima negara utama kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali yang memiliki perubahan positif (8,66 persen) pada bulan Februari 2019 (year on year). Kemenpar menargetkan bahwa 800 ribu wisatawan India akan berkunjung ke Indonesia. Ditengah perlambatan ekonomi dunia, India kini dibidik menjadi pangsa pasar utama karena diprediksi pertumbuhan ekonominya mencapai 7,4 persen di tahun 2018 malah lebih tinggi dari Tiongkok.

Badan Pusat Statistik merilis data jumlah wisman India ke Bali pada bulan Februari 2019 tercatat mencapai 28.809 orang dengan pertumbuhan sebesar 8,66 persen dibandingkan Februari 2018. Jika me-refer pada angka wisman India secara nasional yang mencapai 54 ribu wisman, kurang lebih lima puluh persennya datang ke Bali. Namun dari segi proporsi, hanya 6,58 pesen dari total wisman ke Bali adalah wisman dari India.

Saat ini, wisman ke Bali masih didominasi oleh wisman asal Tiongkok yang mencapai 122.643 orang, wisman asal Australia sebanyak 67.474 orang, wisman asal Jepang sebanyak 20.665 orang, wisatawan asal Inggris sebanyak 15.806, dan wisman India menempati posisi ketiga dari lima negara utama asal wisman ke Bali tersebut. Namun dari kelima negara utama tersebut, hanya wisman asal India yang mencapai titik perkembangan positif sebesar 8,66 persen secara year on year. Jumlah wisman Tiongkok menurun sedalam -14,57 persen, wisman Australia menurun sedalam -4,89 persen, wisman Jepang menurun sedalam -4,54 persen, serta wisman Inggris juga menurun sedalam -3,94 persen. Wisman India memang memiliki trend kedatangan yang unik. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana erupsi Gunung Agung pada Desember 2017, dan ketika itu pula beberapa negara menerapkan travel warning dan ditandai dengan terjun bebas nya jumlah wisman asal Tiongkok sedalam -86,58 persen, wisman India tetap mengalami peningkatan jumlah dari bulan sebelumnya sebesar 37,88 persen.

Sebuah jurnal bertajuk “A shapping The Future of Travel in India, The Big Four Travel Effect” menunjukkan bahwa seiring dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi India, mendorong ratusan juta penduduk India menjadi masyarakat kelas menengah yang telah memiliki kesiapan finansial dan menyukai berwisata. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi adalah wisata bisnis. Pada tahun 2010, Sekitar 41 persen dari 4,5 juta wisatawan India berwisata ke Asia Pasifik dengan tujuan wisata bisnis.

Sebuah Report berjudul “Outbound Tourism From India, 2015” juga menunjukkan bahwa penduduk India yang berwisata keluar negeri akan diprediksi bertumbuh menjadi 35 juta penduduk di tahun 2020, yang semula hanya 18 juta penduduk di tahun 2014. Organisasi pariwisata dunia UNWTO (2012) menjabarkan India menempati ranking ke 23 pasar wisata yang paling tumbuh dengan cepat dengan total spending di tahun 2030 diprediksi meningkat 40 persen mencapai 91 miliar US Dollar. Rata-rata untuk pengeluaran satu orang wisman India mencapai 800 US$ hingga 1000 US$. Bahkan saat ini wisata bisnis seperti penyelenggaraan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) merupakan sektor yang mengalami pertumbuhan tercepat yang diprediksi memiliki spending hingga 2.200 US$ dalam satu kali perjalanan. “Global Tourism Watch 2011” yang disusun oleh Canadian Tourism Commision juga menunjukkan secara demografi, kebanyakan wisatawan India merupakan generasi muda yang sebagian besar berusia dibawah 35 tahun. Kebanyakan wisatawan India adalah laki-laki.

Membidik Pasar India

Bali sendiri telah memiliki konektivitas tersendiri dengan India. Sebagai sebuah wilayah yang sama-sama memiliki penduduk yang mayoritas beragama Hindu, tentu memiliki budaya yang saling terkoneksi. Hal ini menjadikan Bali sebagai wilayah yang strategis dalam “menggaet” wisman India untuk datang ke Bali. Bali yang merupakan pulau seribu pura menjadikan wisman India sangat antusias dalam berwisata spiritual. Terlebih lagi trend wisata yoga yang telah lama marak di Bali menjadi magnet dalam menggaet wisman India yang merupakan daerah asal muasal dari pengucapan kata “Namaste” tersebut. Tentu event yoga sangat tepat dilaksanakan di Bali mengingat adanya perayaan Hari Yoga Internasional pada tanggal 17 Juni 2019 mendatang.

Tidak hanya kekayaan non material seperti kesamaan budaya, saat ini kemudahan akses langsung ke India semakin dipermudah. Adanya direct flight Denpasar-Mumbai telah cukup membantu dalam memberikan kemudahan transportasi bagi outbound tourist yang berasal dari India. Pemerintah pun tidak diam dalam menanggapi fenomena mulai menjamurnya wisman asal India ke Bali. Pada tahun 2018, pemerintah Provinsi Bali telah menjalin kerjasama sister province dengan negara bagian Uttarakhand India berupa kerjasama di bidang pariwisata dan kebudayaan, e-Government, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia dan lingkungan serta kesehatan. Tentu diharapkan dengan dimulainya kerjasama tersebut maka semakin mampu mendatangkan wisman India ke Bali.

Bagi Bali sendiri, merupakan sebuah tantangan juga. Tidak hanya untuk menggaet wisatawan asal India, bahkan target pasar negara-negara lain pun juga harus menjadi perhatian. Saat ini Bali sendiri sudah bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan dengan provinsi tetangga. Misalnya, tingkat pengangguran terbuka di Bali di bulan Agustus 2018 mencapai 1,37 persen, sementara Provinsi tetangga seperti NTB mencapai 3,72 persen, NTT mencapai 3,01 persen, dan Jawa Timur mencapai 3,99 persen. Indikator lain juga demikian. Persentase penduduk miskin di Bali kondisi September 2018 mencapai 3,91 persen, sementara provinsi tetangga seperti NTB mencapai 14,63 persen, NTT mencapai 21,03 persen, dan Jawa Timur mencapai 10,85 persen. Indeks pembangunan manusia di Bali yang sebesar 74,3 di tahun 2017 juga lebih kecil dibandingkan provinsi tetangga seperti NTB (66,58), NTT (63,73), dan Jawa Timur (70,27). Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi Bali sesungguhnya adalah pariwisata yang mampu membedakannya dengan provinsi tetangga.

Sesungguhnya, wisatawan Bali tidak hanya “orang bule”. Wisatawan domestik juga tidak kalah besar perannya. Bahkan peranan wisatawan domestik sebenarnya justru lebih besar daripada wisatawan mancanegara dalam menggerakkan perekonomian. Selama ini, kita luput akan trend masyarakat dalam negeri yang berbondong-bondong berwisata ke luar negeri, yang senyatanya memiliki spending yang cukup tinggi di luar negeri. sudah sewajarnya juga Bali memperhatikan pergerakan wisatawan domestik, di tengah euforia meningkatnya kedatangan wisatawan mancanegara. Hal ini tiada lain dan tiada bukan adalah demi kesejahteraan masyarakat Bali yang bisa dikatakan bergantung pada sektor Pariwisata.

 

Penulis
Dwi Yustiani, SST.
Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

 

 

Tulisan ini telah terbit pada harian Bali Post  tanggal 03 Mei 2019

Link : Bali Post

Leave a Reply