MENDETEKSI SINYAL LEMAH PARIWISATA BALI

Caturwulan I 2019, diduga memberikan sinyal pariwisata Bali yang kian membutuhkan perhatian. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia telah merilis angka jumlah kedatangan wisman ke Indonesia pada caturwulan pertama 2019 yang meningkat sebesar 3,22 persen dibandingkan caturwulan pertama 2018. Pasalnya, tidak demikian terjadi pada Bali yang disebut sebagai provinsi penyumbang sekitar 40 persen lebih jumlah wisman nasional. Kunjungan wisman ke Bali secara kumulatif malah turun sedalam -0,04 persen. Apalagi dengan kondisi kenaikan tiket pesawat, yang cukup menggiring opini publik bahwa “dialah” penyebabnya.

Sebagai sebuah negara yang menempatkan sub sektor pariwisata dalam salah satu program Nawa Cita yang secara substantif terkandung dalam semangat percepatan laju pertumbuhan ekonomi, sekiranya pariwisata menjadi sebuah konsen non politis yang sudah seharusnya disadari sebagai sebuah ekonomi yang memberikan efek domino cukup besar. Apalagi bagi Bali, yang senyatanya menempatkan pariwisata dalam sebuah prioritas utama, yang diisyaratkan oleh sub sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yang mampu memberikan sumbangan tertinggi terhadap penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Bali di triwulan I 2019 (year on year) yakni sebesar 1,02 persen (data BPS).

Namun, kondisi terakhir menunjukkan sebuah “kegamangan” mengenai bagaimana tren selanjutnya pariwisata Bali. Kali ini, kondisi pariwisata Bali tidak searah dengan kondisi agregat nasional. Ketika kedatangan wisman ke Indonesia pada bulan April 2019 meningkat sebesar 0,11 persen dibandingkan April 2018, Bali justru menunjukkan kondisi sebaliknya, bahkan pada periode yang sama menurun cukup dalam hingga -7,83 persen (Data BPS). Jika dilihat ke belakang, prestasi Bali dalam mengundang wisman untuk berkunjung ke Bali di tahun 2019 ini tidak segemilang di tahun sebelumnya, bahkan di bulan Juli 2018, Bali mampu mencapai rekor tembus hingga enam ratus juta wisman (624,37 ribu wisman) yang belum pernah dicapai di tahun-tahun sebelumnya.

Mungkinkah kini Bali mulai ditepikan? Seiring dengan gencarnya promosi pariwisata terkait adanya 10 Bali Baru, Bali dirasa tidaklah merasa terancam. Karena Bali sesungguhnya lah yang menjadi trend setter dari pembentukan kesepuluh wilayah tersebut. Namun faktanya diduga berkata lain. Pasalnya, dari 16 pintu masuk udara berskala internasional, kedatangan wisman ke Bali pada bulan April 2019 yang melewati Bandara I Gusti Ngurah Rai memang menunjukkan penurunan sedalam -7,75 persen dibandingkan April 2018. Namun, beberapa bandara internasional di Pulau Sumatera menunjukkan peningkatan kedatangan wisman seperti di pintu masuk Bandara Sultan M Badaruddin II (Sumatera Selatan) yang naik 65,51 persen, Bandara Sultan Syarif Kasim (Riau) naik 35,03 persen, Bandara Minangkabau (Sumatera Barat) naik 27,44 persen, dan Bandara Kualanamu (Sumatera Utara) naik 17,71 persen  (Data BPS). Jika dikaitkan dengan 10 Bali Baru, tentu ada dua destinasi yang tergolong 10 Bali Baru berada di Pulau Sumatera yakni Danau Toba dan Tanjung Kalayang. Namun, untuk membuktikan opini ini tentunya membutuhkan kajian mendalam untuk menjawabnya secara ilmiah.

Jika diamati dari sisi transportasi udara, memang kondisi keberangkatan penumpang Internasional dari Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bulan April 2019 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya hingga 3,45 persen, walaupun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya memang turun. Jika dikaitkan kondisi keberangkatan penumpang internasional di Pulau Sumatera seperti di Bandara Minangkabau (Sumatera Utara) pada April 2019 yang alami penurunan dibanding bulan sebelumnya sedalam -3,41 persen. Apa tafsiran angka-angka tersebut? Disini diduga ada kecenderungan bahwa Bali bukanlah menjadi destinasi wisata utama, malah ada kecenderungan wisatawan mancanegara kembali ke negerinya atau melanjutkan perjalanannya ke negara lain melalui Bali. Secara lugas, diduga wisman datang ke Indonesia lewat pintu masuk lain, dan sebagai tujuan akhir nya adalah Bali. Ambilah contoh di Sumatera Utara yang memiliki destinasi 10 Bali Baru yaitu Danau Toba. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Sumatera Utara naik dari 45,37 persen di bulan April 2018 menjadi 49,83 persen di bulan April 2019. Sementara, kondisi sebaliknya untuk Bali, TPK hotel bintang turun dari 63,53 perseni di bulan April 2018 menjadi 60,33 persen di bulan April 2019 (Data BPS). Ada sinyal penting yang dapat ditangkap pada kondisi ini. Apakah memang kini Bali bukanlah menjadi destinasi utama lagi, atau malah adanya kecenderungan kemudahan akses seperti pembangunan jalan tol di berbagai daerah yang membuat wisatawan menempuh jalur darat saja dan berakhir di Pulau Bali.

Di sisi wisatawan domestik, kondisi kenaikan tiket pesawat seringkali dikaitkan sebagai penyebab turunnya kedatangan wisatawan. Hal ini diduga berdampak pada pergerakan wisatawan domestik yang dapat diamati dari turunnya jumlah keberangkatan penumpang domestik di bulan April 2019 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya hingga -1,54 persen, bahkan jika dibandingkan dengan April 2018 malah turun lebih dalam hingga -22,26 persen (Data BPS). Dari potret kedatangan wisatawan domestik yang direkam oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali selama dua tahun terakhir menunjukkan tren kedatangan wisatawan domestik yang alami peningkatan di bulan April 2017 dan April 2018, seharusnya di April 2019 juga naik. Fenomena ini menjadi sangatlah penting, karena geliat wisatawan domestik yang menjadi harta karun dalam kepariwisataan Bali yang akan tetap bertahan meskipun adanya guncangan pada kedatangan wisatawan mancanegara. Jika wisatawan domestik terguncang, apalagi dengan wisatawan mancanegara, dan bagaimana dengan nasib pariwisata Bali yang memang bagi sebagian besar masyarakat Bali menjadi tumpuan utama dalam keberlangsungan hidup.

Dari sisi pangsa pasar, potret wisman di caturwulan pertama 2019 menunjukkan kondisi yang sedikit berbeda. Pasalnya pasar wisman yang diluar Asia seperti Eropa dan Amerika menunjukkan geliatnya. Secara kumulatif caturwulan pertama 2019, kedatangan wisman ke Bali yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Jerman malah melaju kencang. Di tengah perlambatan kedatangan wisman Asia seperti turunnya secara kumulatif (caturwulan I 2019) kedatangan wisman Tiongkok ke Bali yang turun -0,22 persen, wisman asal Australia yang turun sedalam -1,32 persen, dan negara India yang dijuluki sebagai anak benua ini juga mengalami penurunan hingga -5,04 persen, Bali harus memandang hal positif dari kondisi ini, bahwa pariwisata Bali kini berkualitas. Wisatawan Eropa yang memang sudah dikenal sebagai wisman dengan karakteristik berpengeluaran tinggi diharapkan mampu menambah pendapatan daerah, yang nantinya akan berujung pada perbaikan kualitas pariwisata Bali itu sendiri. Namun, jangan juga berlarut pada naiknya wisman Eropa, kecenderungan wisman Tiongkok, Australia, dan India yang bisa dikatakan merajai hampir di setiap periode harus mendapat perhatian juga. Apresiasi yang sangat tinggi terhadap pemerintah Kabupaten Badung yang telah berupaya melakukan promosi pariwisata dengan mengikuti Beijing International Tourism Expo (BITE) pada 18-22 Juni 2019, dan berujung pada akan diselenggarakannya wisata China Town pada 28 Juni 2019 mendatang. Ada harapan mulia di balik proses tersebut, yakni mengembalikan kondisi kunjungan wisman ke Bali yang seperti tren sebelumnya didominasi oleh wisman asal negeri Tiongkok itu. Kekuatan promosi memang menjadi salah satu andalan untuk membuat Bali semakin dikenal penduduk dunia.

Penulis

Dwi Yustiani, SST.

 

 

 

 

Leave a Reply