Menanti Pemimpin Berbasis “Cinta”

Pemimpin Berbasis Cinta
Pemimpin Berbasis Cinta

Proses demokrasi (pemilu) telah usai. Kini saatnya menanti hasil dimana diperolehlah keputusan siapa pemimpin terbaik, sehingga pesta demokrasi dapat digelar. Namun, diluar semua itu, yang paling penting adalah kualitas pemimpin terpilih yang akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Pemimpin terpilih hendaknya memiliki karakter Cerdas, Integritas, Norma, Transformatif, dan Arif (CINTA).

Tidak seperti melempar sebuah dadu, atau tidak seperti melempar sebuah koin dengan beberapa sisi. Itulah pemilu. Proses pemilu itu merupakan sebuah hal yang bila dikatakan rumit maka sangatlah rumit, jika dikatakan mudah maka ini merupakan hal yang sangat mudah. Seperti dalam ilmu statistik, bila ada dua pilihan, maka keduanya memiliki peluang yang sama untuk terpilih. Dengan peluang yang sama ini, maka paslon A bisa terpilih untuk periode ini, begitu pula paslon B juga dapat terpilih. Namun, apa yang sanggup mematahkan nilai peluang 0,5 tersebut? Tiada lain dan tiada bukan adalah prospek kepemimpinan masing- masing.

Pemimpin Berbasis “Cinta”

George Orwell, seorang sastrawan Inggris yang terkenal dengan karyanya yaitu Nineteen Eighty Four dan Animal Farm mengemukakan bahwa para pemimpin yang menawarkan darah, kerja keras, keringat, dan air mata selalu mendapatkan lebih banyak dukungan dari pengikut mereka daripada mereka yang menawarkan keamanan dan waktu yang baik. Hal ini tidak terlepas dari gaya kepemimpinan. Saya tertarik menggunakan akronim CINTA dalam menganalogikan sebuah gaya kepemimpinan. Karena cinta akan mampu menyatukah semua hal termasuk antara pemimpin dan yang dipimpin. Apa itu gaya kepemimpinan CINTA? Cerdas, Integritas, Norma, Transformatif, dan Arif.

Cerdas. Seorang pemimpin yang cerdas harus mampu memaksimalkan potensi, melakukan skala prioritas, dan mampu menyederhanakan sesuatu yang rumit, bagi kemaslahatan bersama. Sigap dalam mengambil keputusan, serta logis dalam setiap langkah yang diputuskan merupakan ciri-ciri dari seorang pemimpin yang cerdas. Tentu saja sikap optimis juga harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang cerdas. Betapa kurang eloknya ketika seorang pemimpin berkata bahwa apa yang akan dipimpinnya akan binasa sekian tahun ke depan. Sikap pesimis ini menunjukkan sebuah ketidakcerdasan seorang pemimpin.

Integritas. Atribut terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah integritas. Secara harfiah pun, integritas berarti memiliki prinsip yang teguh. Dalam pengaplikasian sebuah pemimpin, integritas menunjukkan perilaku seorang pemimpin yang teguh akan keputusan yang diambil. Perilaku anti korupsi juga menunjukkan seorang pemimpin yang memiliki integritas. Namun, yang harus ditekankan adalah, integritas tidak hanya harus dimiliki oleh seorang pemimpin namun juga yang dipimpin juga harus memiliki integritas yang serupa.

Norma. Seorang pakar, Isworo Hadi Wiyono menyatakan bahwa norma adalah sebuah petunjuk atau peraturan dalam hidup yang mampu memberikan ancar-ancar tentang perbuatan mana saja yang harus dilakukan atau dihindari. Di negara yang terkenal sebagai negara yang memiliki sopan santun dan keramah tamahan seperti ini, tentu norma sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup sebagai makhluk sosial. Begitu pula seorang pemimpin yang seharusnya menjadi contoh bagi yang dipimpin tentu juga harus taat terhadap norma.

Transformasional. Menurut Bass (Yukl, 2010:313) kepemimpinan transformasional adalah suatu keadaan dimana para pengikut dari seorang pemimpin merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan mereka. seorang pemimpin transformasional memiliki kemampuan mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian.

Arif. Stephen Covey (2012) menyatakan sembilan puluh persen dari semua kegagalan kepemimpinan adalah kegagalan pada karakter. Seiring dengan perkembangan jaman, karakter pemimpin dapat dibangun dari penggiringan opini yang beredar di media sosial. Namun sejatinya, karakter pemimpin yang hakiki adalah kearifan yang dimiliki. Kepopularitasan dalam dunia maya masih kalah jauh dengan kepopularitasan yang disandingkan dengan akhlak yang mulia. Arif disini merujuk pada karakter seorang pemimpin yang luhur dan mulia.

Pemilu memang penting. Namun proses penting selanjutnya adalah bagaimana bangsa ini dapat melangkah kedepan menyongsong masa depan yang cerah. Masih banyak tugas-tugas yang harus dilaksanakan bagi pemimpin yang terpilih. Memeratakan kesejahteraan, mengurangi pengangguran, meningkatkan rasa aman, menjunjung tinggi nilai toleransi, menjaga stabilitas harga, dan memberi perhatian lebih terhadap hak asasi manusia, merupakan sebagian kecil dari tugas-tugas pemimpin bangsa ini selanjutnya. Tidak hanya itu, bagi pemimpin yang tidak terpilih pun tetap memiliki tugas-tugas sebagai seorang pemimpin, menjadi pemimpin bagi diri sendiri maupun orang lain adalah sama beratnya. Yang membedakan adalah skala nya saja. Karena semua manusia terlahir sebagai pemimpin.

 

 

 

Penulis
Dwi Yustiani, SST.
Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

 

Tulisan ini telah terbit pada harian Bali Post, Rabu 24 April 2019

Link : Bali Post

Leave a Reply